Polri Terus Ditempel Microsoft

22 Agustus, 2007 pukul 6:20 pm | Ditulis dalam Berita IT harian | Tinggalkan komentar

Rabu, 22/08/2007 17:37 WIB

Polri Terus Ditempel Microsoft

<!––>


Polri
Jakarta – PT Microsoft Indonesia berusaha untuk tetap mendekatkan diri dengan Kepolisian RI melalui upayanya dalam mendukung pemberantasan eksploitasi anak dengan aplikasi CETS.

Pun, upaya dan dukungan teknis yang disumbangkan raksasa software asal Amerika Serikat tersebut melalui aplikasi Child Exploitation Tracking System (CETS) kerap dipuji-puji Kepala Unit Cyber Crime Bareskrim Polri, Komisaris Besar Polisi Petrus Golose.

“Menurut saya aplikasi ini bagus sekali meski masih banyak kekurangannya di sana-sini,” ujar Petrus dalam jumpa pers Satu Tahun Implementasi CETS, di Restoran Bunga Rampai, Jalan Teuku Cik Ditiro, Jakarta Pusat, Rabu (22/8/2007).

CETS merupakan perangkat aplikasi yang semula dikembangkan Kepolisian Kanada, para ahli penegak hukum internasional dan Microsoft, untuk membantu agen-agen Kepolisian dalam berbagi dan menganalisa informasi guna melacak para predator anak secara online.

“Aplikasi ini dibuat menggunakan standar dokumen terbuka Open XML. Dengan format ini, kami menjamin interoperabilitas dengan platform lain, baik itu yang proprietary maupun open source,” kata Direktur Korporat PT Microsoft Indonesia, Drajat Panjawi.

Selain di Bareskrim, CETS juga diaplikasikan di delapan Polda di Indonesia yang dicurigai sebagai daerah yang kerap jadi incaran turis asing untuk kejahatan pedophilia seperti Medan, Kepulauan Riau, Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Bali, dan Lombok.

Namun demikian, meski telah satu tahun mengimplementasikan CETS, Bareskrim belum berani mengklaim keberhasilan yang signifikan atas bantuan Microsoft tersebut. “Aplikasi software ini hanya untuk memfasilitasi. Bukan berarti dengan adanya aplikasi ini semua penjahat eksploitasi anak bakal tertangkap,” kata Petrus.

“Setidaknya, aplikasi ini berhasil untuk membuat investigasi jadi lebih baik, membuat pengumpulan data dari manual ke digital, serta menghindari duplikasi data.

“Jadi, jangan berharap dengan diimplementasikannya aplikasi ini, kami langsung sehebat Jepang,” tangkasnya.

Terkendala Infrastruktur

Petrus sendiri berharap aplikasi CETS ini bakal diterapkan di semua Polda di Indonesia. Namun sekali lagi, infrastruktur internet yang belum memadai menjadi kendala untuk komunikasi data antarpolda.

“Kendalanya, polda-polda masih menggunakan koneksi dial-up. Infrastruktur jadi tidak maksimal. Padahal kami mengharapkan profiling suspect dari daerah lebih banyak lagi,” tangkasnya.

Komunikasi data antarpolda tersebut menggunakan jaringan tertutup intranet yang terkoneksi ke lima server yang terdapat di Bareskrim. Petrus menjamin, jalur koneksi tersebut aman dari gangguan hacker.

“Saya berani jamin tidak ada yang bisa menembusnya. Coba saja, hacker manapun nggak akan bisa masuk. Di dalam saja tak semua petugas bisa masuk kalau nggak dikasih hak akses,” tantangnya.

Petrus menegaskan, meski aplikasi sistem tersebut dibangun menggunakan teknologi Microsoft, namun database tetap menjadi domain Kepolisian RI dan tertutup untuk kepolisian negara lain. “Kami hanya akan men-share data dengan Interpol bila diperlukan untuk koordinasi,” tandasnya.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: